Login | Register Version : English | Suroboyoan | Madura    
2010-02-06 
Surabaya Butuh Pasar Turi
Surabaya - Keberadaan Pasar turi sangat dibutuhkan warga Surabaya. Pasar yang terbakar Juni 2007 silam itu memberikan kesan tersendiri ta hanya bagi warga Surabaya tapi juga warga luar kota. Maklum pasar legendaries itu dirasa cukup merakyat harganya.

“Saya selalu kulakan di Pasar Turi. Meski terbakar saya juga tetap kulakan disini. Kebetulan toko tempat kulakan saya masih tetap buka, meski sebagian stannya ada yang terbakar,” kata Vita pedagang konveksi asal Magetan.

Ia mengaku sejak tahun 90’an, rutinitas kulakan di Pasar Turi dilakoninya seminggu sekali hingga kini. Menurutnya, harga yang ditawarkan di pusat grosir itu cukup murah dibandingkan pusat grosir di kota lain. Bahkan antara harga eceran dan partai tidak terpaut jauh. “Paling selisihnya antara Rp 500-1000,” katanya.

Pengamat ekonomi Mungid Eko mengatakan keberadaan Pasar Turi sangat berpengaruh pada kota Surabaya. Pasalnya, pasar legendaries yang mampu menyedot perputaran uang hingga miliaran rupiah per hari. Dengan geliat perputaran yang begitu besar mampu mendatangkan nilai investasi yang cukup besar.

“Pasar Turi itu bagaikan jantung sebuah tubuh. Setiap detaknya akan berpengaruh cukup besar. Karenanya sebisa mungkin pihak-pihak terkait mengembalikan aktifitas Pasar Turi kembali,” kata dosen di sebuah PTS.

Menyoal telah berdirinya sebuah pusat grosir lain, Mungin yakin semua mempunyai pelanggan sendiri. “Persaingan dagang itu biasa, jadi kalau sudah ada pusat grosir lain, saya yakin kok pasar turi masih tetap diminati,” tandasnya.

Sementara itu, pembangunan kembali Pasar Turi masih saja menunjukkan awan gelap. Padahal, pemenang lelang Pasar Turi sudah ditetapkan, yakni PT Gala Bumi Perkasa. Surat kontrak pembangunan kembali Pasar Turi pun juga sudah tinggal tahap akhir.

Namun, tetap saja pasar yang dulunya adalah pasar grosir terbesar di Indonesia Timur tersebut masih saja terkatung-katung pembangunannya. Pembangunan tersebut terganjal masalah pelepasan aset. Sekedar diketahui, untuk bisa dibangun kembali dengan skema BOT, pemkot harus melepaskan aset terlebih dahulu.

Hingga kemarin, belum ada titik temu antara pemkot dan pedagang soal milik siapa Pasar Turi tersebut. “Tampaknya juga sulit ketemu. Pedagang mengatakan milik pedagang, sementara kami mengatakan milik kami,” kata Asisten II Bidang Administrasi Pembangunan Sekkota Mukhlas Udin.

Mukhlas mengatakan sejauh ini menargetkan paling lambat pekan depan kontrak sudah kelar, dan siap ditandatangani. “Setelah itu, investor bisa melanjutkan kembali pembangunan TPS (tempat penampungan sementara) seraya menunggu proses pelepasan aset di dewan,” urainya.

Nah, ini yang menjadi kendala, karena masih ada tarik ulur antara pedagang dan pemkot soal kepemilikan Pasar Turi. Untuk Pasar Turi tahap I dan IV sudah tak ada masalah. Pemkot menunjukkan bukti kepemilikan, dan pedagang menerimanya. Sedangkan untuk tahap II dan III inilah yang bermasalah. Pemkot tak bisa menunjukkan sertifikat, dan beralasan dokumen kepemilikannya terbakar. ov


Ada 0 Komentar Untuk Berita Ini.


Silakan Login untuk kirim komentar Anda.
Kirim Komentar Anda :
*)max. 250 karakter