 Andrian-Antok, SURABAYA
Andrie, MOJOKERTO
Pemilik Dealer Motor Suzuki Jemursari, Surabaya, Daniel Toni Soeganda Soeprayitno (30), terpaksa harus berurusan dengan polisi. Pasalnya, anak dari owner Hotel Narita Surabaya itu, menganiaya Indra Prasetiya Wibawa (29), yang tak lain karyawan bapaknya sendiri, Bambang Soeprayitno.
Ini merupakan kejadian kriminalitas paling menarik di Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, dan Malang (SSMM), Kamis (4/2). Kejadian lainnya mengenai perselingkuhan (Baca hal. 5). Data yang dihimpun Surabaya Pagi, hingga pukul 22.00 WIB, kejadian penganiayaan ada 2 kasus, disusul perselingkuhan 2 kasus, pencurian dan kekerasan (curas) 2 kasus, pencurian dan pemberatan (curat) 1 kasus, dan pencurian hewan (curwan) ada 1 kasus.
Sementara data yang dihimpun dari lokasi kejadian dan kepolisian menyebutkan, korban penganiyaan bos Suzuki itu merupakan karyawan bagian electronic data precesing (EDP) di Hotel Narita dan sudah bekerja selama empat tahun di hotel yang terletak di Jl Barata Jaya tersebut. Lantaran, faham dengan di bidang elektro komputer, Daniel memintanya untuk memperbaiki laptopnya yang rusak.
Sementara menurut pengakuan korban, sebelumnya Daniel memang memintanya untuk memperbaiki laptop anak majikannya itu. Setelah diperbaiki, ternyata audionya rusak dan dibawa ke THR untuk dilakukan perbaikan. Setelah setelah selasai diperbaiki, ternyata Daniel komplain.
“Katanya audionya kadang bunyi, kadang mati. Kemudian saya bawa kembali ke THR. Kata tukang servicenya, modemnya rusak, dan perlu dua hari untuk memperbaikinya,” terang Indra.
Daniel setuju, masih menurut Indra, tapi ternyata belum selesai. Karena masih harus menunggu modem dari Jakarta. “Rabu (3/2) barangnya datang. Tapi tukang servicenya angkat tangan. Kemudian saya bawah ke Sonny Service Center Jl Achmad Jais dan membutuhkan waktu satu minggu untuk memperbaikinya.”
Sedangkan Daniel bersikukuh minta Rabu, pukul 14.30 WIB, barang harus sudah ada padanya. Bahkan, Daniel mengancam kalau belum datang juga, mulut Indra disumpal dengan sepatu. “Lebih dari waktu itu, tubuh saya yang dipatah-patahkan,” katanya.
Selanjutnya, Kamis sekitar pukul 11.30 Wib, Indra menemui Daniel di ruang accounting lantai dua Hotel Narita. Setelah bertemu, Daniel marah-marah dan melayangkan pukulan ke wajah Indra. Pemuda yang tinggal di Petemon Gg IV/ 119 itu sempat menangkis. Namun, Daniel terus memukul hingga dahi, hidung dan bibir Indra bonyok.
Karena mengetahui insiden tersebut, para pegawai accounting turun memanggil keamanan. Chief security Hotel Narita, Jainuri, datang melerai perkelahian tersebut. “Daniel berontak dan melayangkan pukulan terakhirnya ke wajah Indra,” kata Jainuri.
Selang 10 menit Daniel kembali dan menyuruh Vera, salah satu accounting untuk membuatkan surat pernyataan untuk tidak melaporkan perkaranya pada siapapun. “Dan Indra menandatanganinya di atas materai 6.000,” ungkapnya.
Menurut keterangan Jainuri, korban berhak membawa persoalannya ke ranah hukum, sedangkan masalah surat pernyataan yang dibuat dianggapnya tidak sah karena dibawah tekanan. “Saya cuma bilang sama Indra, kalau ingin melanjutkan ke ranah hukum itu hak kamu,” katanya sambil mengingat kembali perkataannya waktu itu.
Dan menurut keterangan Jainuri, Daniel memang seorang yang temperamental. “Dia (Daniel.red) sering melakukan tindakan tak terpuji pada karyawannya sendiri. Cuma kalau di Narita ya cuma sekali ini,” katanya.
Sementara itu, kejadian ini dibenarkan penyidik Polsek Gubeng. “Memang benar, korban melapor ke polisi. Sekarang masih dilakukan visum di Rumah Sakit International agar bisa dilakukan penyelidikan lebih lanjut,” terang Kanit Reskrim, IPTU Suparmin di Mapolsek Gubeng.
Gadis Dianiaya
Sementara di Mojokerto, Gadis 20 tahun juga diamankan di Mapolresta Mojokerto, Kamis (4/2) sekitar pukul 15.45 WIB. Diduga Gadis yang belum diketahui identitasnya yang kini dalam perlindungan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) adalah korban penganiayaan. Petugas sendiri, hingga berita ini diturunkan masih kesulitan mengorek keterangan dari korban. Pasalnya, korban yang ditemukan masih dalam kondisi trauma dan belum mengucapkan sepatah katapun.
Informasi yang berhasil dihimpun, korban sendiri ditemukan sehari sebelumnya sekitar pukul 18.00 WIB, di teras rumah H Atim Widodo (65) warga Balongsari 6 No 8, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Korban datang dengan mengenakan daster warna kuning bermotif bunga dan duduk di depan teras rumah Atim. Karena dalam kondisi basah kuyup, menimbulkan empati Atim untuk menolongnya dan segera melaporkannya kepada petugas.
Sementara, saat diperiksa, petugas mendapati luka memar pada bagian pundak kirinya yang diduga akibat gesekan benda tumpul. Namun demikian, petugas belum berani memutuskan apakah itu akibat kekerasan atau bukan. ''Dari pundaknya kita dapati luka memar yang kemungkinan karena gesekan benda tumpul. Kita belum berani menyimpulkan penyebab luka tersebut, apakah karena dipukul atau terjatuh,'' ungkap Kanit PPA Polresta Mojokerto melalui stafnya Bripka Wahyuningsih.
Untuk sementara korban diamankan di Mapolresta untuk dimintai keterangannya. Petugas juga menghimbau, bagi masyarkat yang kehilangan anggota keluarganya untuk segera melaporkannya ke Polresta Mojokerto. Korban bisa dikenali melalui ciri-cirinya yang antara lain, tinggi sekitar 160 Cm, rambut lurus seleher, kulit kuning dan agak gemuk. Selain itu, pada tubuh korban juga terdapat ciri-ciri khusus yakni, gigi bagian depannya sebagian tanggal. n
|